Trip to Dieng Plateu

Hallo semuanya, saya mau cerita mengenai perjalanan saya dan istri ke Dieng, Sabtu (9/11/13) kira-kira pukul 13 lebih kami berangkat dari Boyolali setelah sebelumnya mempersiapkan diri dengan peralatan dan perbekalan seperlunya, termasuk mencari tau rute mana yang akan kami tempuh. Kami berangkat dengan menghafal pos wilayah yang harus kami capai untuk sampai di Dieng karena kami belum tau sama sekali jalur yang harus kami ambil mana, dan wilayah itu adalah Ambarawa, Temanggung, Wonosobo baru Dieng. Dari sekian pos wilayah yang harus kami lewati hanya sampai Temanggung saja yang pernah saya lewati, akhirnya kami hanya berpedoman pada petunjuk arah yang ada di jalan. Sekitar Ashar kami sampai di daerah Pringsurat Temanggung

Rute Berangkat
Rute Berangkat

Dari Temanggung kami mengikuti petunjuk jalan menuju Wonosobo melewati Kedu, Pekebunan teh Tambi yang berada diantara gunung Sindoro-Sumbing dan sampai di kota Wonosobo yang membuat kami harus berputar-putar di dalam kota sebelum akhirnya menemukan Jalan Dieng yang menunjukkan 17 KM menuju dieng

Sebelumnya saya sempat mencari rutenya di google maps, tapi apa dikata, disaat perjalanan saya tidak bisa mantengin google maps dan tidak bisa memantau posisi apakah sudah sesuai dengan rutenya akhirnya mau tidak mau melenceng dari rute yang diperkirakan google yang hanya butuh waktu kurang lebih 3 jam perjalanan dan menjadi 5 jam perjalanan, Maghrib saya baru sampai di Dieng

Sesampainya di Dieng kami mencari homestay, berhubung kami belum booking kamipun harus beberapa kali bertanya apakah masih ada yang kosong dan akhirnya kami mendapat kamar di homestay Tulip yang menurut alamantnya masuk ke wilayah Banjarnegara. Setelah selesai merapikan barang-barang, kami keluar untuk mencari makan dan kembali ke homestay untuk istirahat, karena pagi harinya kami akan melihat sunrise di puncak bukit Sikunir yang sudah terkenal menjadi tujuan pemburu sunrise. Pagi harinya tepat pukul 04.00 setelah Sholat Subuh kami berangkat menuju desa  Sembungan lokasi bukit Sikunir berada. Jalanan menuju titik awal pendakian bukit Sikunir ini  kombinasi dari aspal, aspal rusak dan jalan berbatu. Sesampainya dilokasi terlihat sudah ratusan motor & puluhan mobil diparkir di sebuah lapangan yang menandakan bahwa sudah banyak orang yang mulai naik ke puncak bukit sikunir untuk melihat sunrise, setelah memarkirkan motor kamipun langsung bergegas menuju puncak Sikunir. Jarak yang harus ditempuh dengan berjalan kaki lumayan juga, kurang lebih sekitar 800 m dari kaki bukitnya, bagi saya yang jarang olahraga ini termasuk berat, karena menjelang 250 m akhir jalurnya tanjakan yang membuat saya harus isitrahat 3 kali dan ditinggal istri naik duluan.. hehehe, dan akhirnya saya bisa sampai di atas juga, meskipun hanya sampai di titik pertama, karena ada dua titik yang menjadi tempat untuk melihat sunrisenya, di atas sudah banyak sekali orang yang berkumpul, berikut beberapa hasil jepretan pocket camera kami.

Sunrise Bukit Sikunir
Sunrise Bukit Sikunir
Sunrise Bukit Sikunir
Sunrise Bukit Sikunir
Sunrise Bukit Sikunir
Sunrise Bukit Sikunir
Sunrise Bukit Sikunir
Sunrise Bukit Sikunir
Sunrise Bukit Sikunir
Sunrise Bukit Sikunir
Nampang Sambil Istirahat
Nampang Sambil Istirahat

Setelah puas menikmati sunrise dan cukup istirahatnya, kami kembali turun untuk melanjutkan perjalanan lagi menuju Telaga Warna, Kawah Sikidang & Komplek Candi Arjuna. Pada saat perjalanan kembali ke parkiran saya baru tau bahwa tempat kami parkir tadi ternyata berada di tepi telaga, telaga Cebong, di sekitar danau terlihat beberapa tenda yang mungkin dipakai bermalam sambil menunggu sunrise.

Telaga Cebong
Telaga Cebong

Kemudian kami melanjutkan perjalanan lagi…

Pintu Masuk Ds Sembungan
Pintu Masuk Ds Sembungan

Gapura masuk ke desa Sembungan, yang tertulis ‘Desa Tertinggi di Pulau Jawa’

Kemudian kami menuju ke Telaga Warna, masuk ke objek ini membayar Rp. 2000 per orang. Di lokasi ini ada dua telaga, Telaga Warna dan Telaga Pengilon

Telaga Warna
Telaga Warna
Telaga Warna
Telaga Warna

Tampak ada perbedaan warna air di Telaga Warna ini, mungkin disebabkan alga atau semacamnya, selain itu muncul buih2 air di beberapa permukaan telaga dan bau khas belerang. Setelah puas berkeliling, kami kembali lanjut ke Kawah Sikidang

Kawah Sikidang
Kawah Sikidang

Masuk ke objek kawah Sikidang kami kembali harus membayar Rp. 10.000 per orang, dimana tiket masuk ini berlaku untuk dua objek, Kawah Sikidang & Candi Arjuna. Di lokasi ini bau belerang sangat menyengat, bagi anda yang tidak membawa masker di sini banyak yang berjualan masker, akan tetapi saya rasa masker tidak terlalu membantu untuk mengurangi bau belerangnya… hehehe. Selesai dari sini, lanjut ke Candi Arjuna

Komplek Candi Arjuna
Komplek Candi Arjuna

Setelah selesai jalan-jalan, kami kembali ke homestay untuk siap-siap pulang, kembali ke Boyolali

Rute Pulang
Rute Pulang

Setelah kemarin merasa bahwa rute berangkat terlalu memutar, untuk pulangnya saya memilih rute lain, dimana setelah keluar dari kawasan Dieng saya melewati jalur perkebunan teh Tambi yang melalui jalan desa, jalannya lumayan parah, aspal rusak, jalan berbatu yang membuat motor saya kempes ban depannya karena ada beling yang menancap, untung saja masih ada tukang tambal ban di daerah yang saya lewati. Keluar dari kawasan perkebunan teh, kami memasuki jalan aspal yang lumayan bagus, akan tetapi karena kami hanya berpedeoman pada petunjuk jalan, kami kembali harus berputar-putar melewati daerah Jumo, yang jalurnya tembus ke Kedu kemudian baru ke Kota Temanggung, sampai di Temanggung kami berhenti untuk istirahat makan, karena dari bangun pagi kami belum sempat sarapan. Keluar dari Temanggung, kami mengikuti jalur yang sama seperti pada saat berangkat, sampai di rumah sekitar pukul 13.30.

Pengalaman yang luar biasa menurut saya, karena ini baru pertama kalinya berkendara menepuh jarak yang lumayan jauh (kurang lebih 250km pp) dan bisa menjadi pelajaran untuk persiapan perjalanan berikutnya…

7 Comments

Leave a Reply